SmgmMPcj7P3P6Iq3b9lFutQl5bwb5f2X0nL3ktD5

Cari Blog Ini

Game Zona 1 Komunikasi Produktif #Day2

Komunikasi produktif

Bismillaah

Setelah semalam berhasil membujuk kakak keluar kamar mandi dengan nada ramah dan tanpa membuatnya menangis saya jadi semakin bersemangat bermain tantangan di zona 1. 

Ini seperti saya mendapatkan mainan baru yang begitu menyenangkan. Yang membuat saya ingin memainkannya lagi, lagi dan lagi.
Jujur saja, saya memang sudah sering dengar istilah komunikasi produktif tapi baru sekadar tahu nama, belum benar-benar memahami apalagi praktik.

Makanya, saya merasa sangat bersyukur bisa mengikuti perkuliahan Kelas Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional ini. Baru masuk kelas saja kami sudah disuguhkan materi yang luar biasa.

Yup, komunikasi produktif bukan materi yang bisa dianggap biasa-biasa saja, kan? Kemarin-kemarin saya luput mempelajari ilmu yang satu ini, padahal sangat dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga. Syukurnya tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Nah, setelah mendapatkan materi Komunikasi Produktif kami langsung dikasih tantangan untuk praktik selama 15 hari. Saat ini, tantangan di zona 1 sudah masuk hari kedua. Seperti yang sudah saya singgung di postingan sebelumnya, hari ini saya masih ingin melanjutkan komunikasi produktif dengan kakak.

Saya sadar, selama ini komunikasi saya masih jauh dari kata produktif. Akibatnya saya selalu mudah "meledak" menghadapi kakak dengan tingkahnya yang benar-benar menguji kesabaran.

Padahal saya tahu dan paham sekali, memang sudah fasenya dia bertingkah seperti itu. Lari kesana-kemari, panjat sana-sini, bikin rumah berantakan, suka main air, main tanah dan kotor-kotoran, malas makan, tantrum dan lain sebagainya. Itu wajar dan hampir dialami oleh semua anak sebayanya.

Lalu kenapa saya harus melarangnya? Kenapa saya harus marah? Kenapa saya harus mengeraskan suara bahkan sampai membentak kakak jika lepas kendali? 

Kenapa saya tidak bisa menghadapi tingkahnya dengan sikap yang wajar pula. Dengan santai, dengan kepala dingin tanpa perlu meledak?

Jawabannya dari pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin bisa saya temukan di tantangan selama 15 hari ini.

Temuan Hari Ini

Pertanyaan ini sempat terlintas di benak saya semalam setelah berhasil dengan mudah membujuk kakak berhenti main air, apakah saya mampu menahan emosi dalam menghadapi tingkah kakak yang menggemaskan dengan menerapkan teori Komprod yang saya dapatkan di Kelas BunSay?

Hari ini saya ingin membuktikannya, dengan berusaha menerapkan poin komprod pada anak, terutama dalam hal mengendalikan intonasi.

Sebisa mungkin saya selalu mengajak kakak ngobrol dengan nada yang lembut dan ramah. Termasuk saat kakak melakukan berbagai hal yang kerap memancing emosi, seperti mengganggu atau memukul adiknya saat saya lagi sibuk di dapur, bikin rumah berantakan setelah berkali-kali saya rapikan dan main air setelah mandi hingga baju yang baru dipakainya basah kuyup.

Hari ini saya memilih untuk mengabaikan semua 'masalah' itu dan fokus pada solusi. Saat dia membuat adiknya menangis saya menegurnya dengan lembut dan 
mengatakan "No pukul adik. Bunda ingin kakak sayang sama adek".

Saat dia bikin rumah berantakan, saya tarik napas dalam-dalam, keluarkan, lalu mengatakan "It's Ok. Nggak papa kakak bikin berantakan rumah. Nanti kakak bisa bantu bunda rapikan kembali"


Ada bocah kedapatan main air di kamar mandišŸ˜…

Nah, ini saat dia kedapatan main air. Kemarin-kemarin kalau lihat dia main air, saya akan melarangnya. Saya akan marah dan menyuruhnya berhenti dengan nada keras. Kalau masih nggak mau, saya akan menariknya keluar kamar mandi dengan paksa. 

Namun siang ini, saat melihat kakak buka celana dan menuju kamar mandi, sengaja saya biarkan, saya nggak marah meski saya tahu itu cuma akal-akalan dia saja.
Ini anak sejak pintar pipis di kamar mandi pintar juga jadikan pipis sebagai alasan biar dia bisa main airšŸ˜…

Well saya tidak ingin lagi melarang kakak main air, apalagi semalam saat berusaha membujuknya keluar dari kamar mandi saya sendiri yang bilang akan membiarkannya main air hari ini (lihat percakapan kemarin).

Tidak melarang bukan berarti saya membiarkan kakak main air sampai berjam-jam lho ya. Tetap saya kasih batasan waktu.

"Kakak boleh main air tapi waktunya sampai Bunda selesai mencuci piring ya?". Bukan kebetulan saat dia main air, saya lagi di dapur dan adiknya sementara tidur.

Entah dia mengerti ucapan saya atau tidak yang jelas dia langsung menurut saat saya ajak keluar kamar mandi setelah urusan di dapur beres. Ini tanpa saya bujuk, lho.

Nah, yang bikin spechless karena barusan seharian ini nggak ada drama kakak nangis-nangis nggak jelas. Tantrumnya malah baru muncul setelah ayahnya pulang. Maa syaa Allaah.

Tantangan yang dihadapi

Tantangan terbesar yang saya hadapi hari ini adalah berusaha menahan emosi. Saya ingin membuktikan bahwa dengan komunikasi produktif saya bisa menghadapi tingkah kakak yang berlebihan dengan kepala dingin. 


Poin Komunikasi Produktif 


Benar-benar di luar dugaan. Setelah seharian ini berusaha  berkomunikasi produktif dengan kakak, saya jadi lebih bisa mengontrol emosi.

Dengan tidak terbawa emosi, mood saya jadi baik. Dan sepertinya mood baik ini menular juga ke anak-anak, terutama si kakak yang seharian ini berhasil bebas tantrum. Nggak ada drama saya marah-marah juga. Pokoknya hepi bangetlah progress hari ini.

Rencana untuk Hari Esok

Komunikasi produktifnya masih tetap bareng si kakak. In syaa Allaah besok saya ingin menerapkan komprod ini pada proses toilet training kakak yang sementara masih berjalan.

Bintang untuk Hari Ini

⭐⭐⭐⭐

Karena seharian ini saya berhasil menahan emosi dan bikin kakak nggak tantrum boleh dong saya apresiasi diri dengan memberi 4 bintangšŸ„°
 

Siska Dian Wahyunita
IP Sulawesi

#harike-1
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia



Related Posts

Related Posts

Posting Komentar